Sabtu, 08 Juni 2013

Contoh Laporan Penelitian Tradisi Kelahiran Bayi

KATA PENGANTAR
Alhamdulilah segala puja dan puji peneliti kepada Allah SWT atas segala limpahan rahmat dan hidayahnya sehingga penelitian tugas akhir ini dapat berjalan dengan lancar dalam penyelesaiannya.
Selama penelitian tugas akhir ini para peneliti mendapat banyak bantuan, masukan dan dukungan dari berbagai pihak. sehingga dengan terselesainya laporan penelitian ini kami ingin mengucapkan banyak terima kasih kepada :
1.      Kepada Allah SWT yang maha kuasa.
2.      Kepada orang tua tercinta yang tidak pernah putus asa memberikan do’a, nasihat, motivasi dan dukunga.
3.      Ibu Drs.Hj. Zulfa Elisabet.MA.g selaku dosen pembimbing. Atas bimbingan, pengarahan dan motivasi yang di berikan selama pengerjaan tugas akhir ini.
4.      Kepada sesama teman penelitiyang telah bekerja keras untuk dapat bekerja sama dan menghasilkan sebuah penelitian yang maksimal.
5.      Dan semua pihak yang tidaka dapat kami sebutkan satu-persatu. Atas segala do’a dan bantuan dalam penelitian tugas akhir ini.
Penulis menyadari bahwa banyak kekurangan dalam penulisan tugas akhir ini. Oleh karena itu penulis memohon ma’af atas segala kekurangan yang ada. Pada akhirnya, semoga penelitian tugas akhir ini dapat bermanfaat bagi semua pihak pada umumnya dan bagi teman-teman lainnya.

 

Semarang, 10 Mei 213


Tim Penyusun



i
DAFTAR ISI
Halaman
KATA PENGANTAR   .............................................................................................        ii
BAB. I. PENDAHULUAN
A.    Latar Belakang   ................................................................................................       1
B.     Rumusan Masalah   ...........................................................................................       2
C.     Tinjauan dan Manfaat Penelitian   .....................................................................      2 
BAB. II. PEMBAHASAN
A.    Kajian Teori
A.1. Definisi Kebudayaan   ................................................................................      4
A.2. Hubungan Antara Agama Islam dengan Budaya Jawa   ............................      5
BAB. III. METODE PENELITIAN
A.    Definisi Metode Penelitian   ...............................................................................     9
A.1. Pendekatan Penelitian   ...............................................................................     9
B. Lokasi Penelitian   ..............................................................................................     10
C. Sumber Data 
C.1. Data Primer   ...............................................................................................     11
C.2. Data Sekunder   ...........................................................................................     11
D. Teknik Pengumpulan Data  
D.1. Observasi Langsung   .................................................................................      12
D.2. Wawancara   ...............................................................................................      13
E. Analisi Data   ......................................................................................................      14
BAB. IV. PENUTUP
A.    Kesimpulan   ......................................................................................................      14
B.     Saran   ................................................................................................................      15
INDEKS
DAFTAR PUSTAKA
LAMPIRAN
ii


BAB I
PENDAHULUAN

A.     LATAR BELAKANG
Dalam kehidupan bermasyarakat tentunya tidak lepas dari suatu kebudayaan, dimana kebudayaan tersebut di hasilkan oleh masyarakat sendiri. Kebudayaan muncul merupakan hasil prilaku masyarakat yang sering kali di lakukan. Dari sebuah kebudayan memberikan cerminan sendiri tentang identitas suatu bangsa.
Budaya dapat dianggap sebagai identitas suatu bangsa. Bagaimana ciri khas maupun keunikan suatu budaya bangsa, itu merupakan keunikan tersendiri yang muncul dari budaya tersebut. Terutama indonesia yang kaya akan sumber daya alamnya juga  kaya pula akan budanya. Di seluruh penjuru indonesia terdapat berbagai macamdan bentuk budaya yang memiliki ciri khas tersendiri.
Mengutip arti kebudayaan menurut Koentjaraningrat “ kebudayaan adalah seluruh gagasan dan rasa , tindakan serta karya yang di hasilkan manusia dalam kehidupan bermasyarakat. Serta dari kebudayaan dapat tampak suatu watak (Ethos). seperti yang tampak misalnya,  gaya tingkah laku, atau benda-benda hasil karya masyarakat”[1]
Meskipun di temukan kemiripan antara suatu buadaya dengan  kebudayaan yang lain.di karenakan adanya percampuran budaya (Akulturasi ) secara perlahan. Dalam suatu kebudayaan terdapat rangkaian adat –istiadat serta tradisi. Hal tersebut saling berkaitan satu dengan yang lainnya. tradisi dapat di katakan sebagai suatu kebiasaan yang tentunya kerap dilakukan hingga membentuk suatu pola adat-istiadat yang di lakukan masyarakat dan terus di pertahankan. Dan adat- istiadat tersebut telah di sepakati oleh masyarakat , sehingga membudaya dalam kehidupan bermasyarakat.
Suatu tradisi merupakan warisan temurun dari nenek moyang. Dan tentunya memiliki maksud dan tujuan tersendiri. Nenek koyang mengajarkan berbagai hal untuk bekal masa depan dengan bercampur pengalamn serta kebudayaan. Kepercayaan nenek moyang yang kental tentu mempengaruhi bagaimana tradisi itu tercipta bahkan hingga kini masih di pertahankan akulturasi budayanya. Adapun kepercayaan nenek moyang tentang kekuatan (Dinamisme dan Animisme)..Dan ada pula tradisi masyarakat berupa upacara adat-istiadat.
Misalnya saja upacara adat seorang kelahiran bayi di banyumas, yang di sebut dengan Muyen. di mana dalam upacara adat tersebut agam berperan penting di dalamnya. Adanya kepercayaan mengenai seorang bayi yang lahir harus diadakan upacara adat setempat . gunanya kelak nanti kan tumbuh segai seorang yang di banggakan dan di harapakan.
Pada dasarnya kebudayaan Banyumas merupakan bagian yang tak terpisahkan dari kebudayaan jawa, namun karena kondisi yang tidak strategis yang jauh dari pusat kekuasaan keraton dengan demikian latar belakang dan pandangan masyarakat Banyumas sangat dijiwai oleh semangat kerakyatan yang mengakibatkan sisi budaya Banyumas.

B.     RUMUSAN MASALAH
Setelah melihat latar belakang yang ada agar dalam penelitian tidak terjadi kerancauan, maka penulis membatasi masalah dnan merumuskan masalah yang akan di angkat dalam penelitian ini. Adapun rumusan masalah yang di ambil di antaranya adalah sebagi berikut :
1.      Bagaimana Upacara Adat kelahiran bayi ( Muyen ) Banyumas itu bisa muncul ?
2.      Apa faktor-faktor yang menyebabkan adanya Upacara Adat Kelahiran Bayi itu ada ?
3.      Bagaimana dampak adanya Tradisi Muyen di Banyumas ?

C.    TUJUAN DAN MANFAAT PENELITIAN
Adapun tujuan dari penelitian ini di lakukan di antaranya :
1.    Mengetahui budaya – budaya indonesia yang khas dan memeberikan sesuatu yang mencerminkan identitas suatu daerah tersebut.
2.      Mengetahui betapa pentingnya sebuah tradisi suatu daerah yang dimiliki oleh masyarakat tersebut.
3.      Mengetahui betapa pentingnya agama berperan dalam sebuah kebudayaan.
4.      Menggali sejauh mana
Dari tujuan di adakan penelitian tadi maka, adapun manfaat dari penelitian di antaranya:
1.      Bagi peneliti sendiri, dapat mengetahui suatu kebudayaan yanga ada di suatu daerah yang ada sehingga dapat mengembangkan kembali tentang penelitian mengenai kebudayaan.
2.      Memotivasi bagi masyarakat agar dapat menjaga sebuah kebudayaan agar tidak hiang di makan oleh waktu, dan dapat di turunkan oleh anak –cucunya.
3.      Perlunya sebuah kesadaran dan kepedulian dari mahasiswa terhadap kebudayaan. Di mana kebudayaan memberikan pengetahuan yang lebih tentang arti sebuah budaya.


















 BAB II
PEMBAHASAN

A.      KAJIAN TEORI
A.1.  Definisi Kebudayaan
Kebudayaan merupakan “ kebudayaan adalah seluruh gagasan dan rasa , tindakan serta karya yang di hasilkan manusia dalam kehidupan bermasyarakat. Serta dari kebudayaan dapat tampak suatu watak (Ethos). seperti yang tampak misalnya,  gaya tingkah laku, atau benda-benda hasil karya masyarakat”[2]
Sedangakat Tradisi dalam bahasa latin Tradisi (Bahasa Latin: traditio, "diteruskan") atau kebiasaan dalam pengertian yang paling sederhana adalah sesuatu yang telah dilakukan untuk sejak lama dan menjadi bagian dari kehidupan suatu kelompok masyarakat, biasanya dari suatu negara, kebudayaan, waktu, atau agama yang sama. Hal yang paling mendasar dari tradisi adalah adanya informasi yang diteruskan dari generasi ke generasi baik tertulis maupun (sering kali) lisan, karena tanpa adanya ini, suatu tradisi dapat punah.
Pengertian Kelahiran merupakan pengakhiran pada proses kehamilan dan juga merupakan permulaan pada sebuah kehidupan manusia. Proses kelahiran bermula apabila rahim terjadi kontradiksi selama 15-30 menit dan serviks merenggang serta mulai terbuka sekitar 14-24 jam. Pada umumnya terdapat 3 kaedah utama kelahiran yaitu kelahiran secara semula jadi, kaedah Cesarean dan juga kaedah “preparedbirth”.
Bayi merupakan manusia yang lahir dengan umur kehamilan 37-42 minggu, memiliki berat lahir 2500 samapi 4000 gram. Bayi baru lahir dapat di lahirkan melalui vagina dan melalui operasi cesar. Bayi baru lahir harus mampu beradaptasi dengan lingkungan baru karena setelah plasentanya di potong mak tidak ada lagi asupan makanan dari ibu, selain itu kondisi bayi baru lahir masih rentan terhadap penyakit. Ciri –ciri bayi lahir dengan normal dan sehat :
1.      Berat badan 2500[3]-4000 gram
2.      Panjang badan 48-52 cm
3.      Lingkar dada 30-38 cm
4.      Lingkar kepala 33-35 cm
5.      Frekuensi jantung 120-160 kali/menit
6.      Pernafasan kurang lebih 60-40 kali permenit.
A.2.  Hubungan Antara Agama Islam dan Budaya Lokal Jawa
Suatu Adat atau tradisi muncul merupakan sebuah perilaku yang dilakukan masyarakat secara berkala. Tetapi dalam ebuah tradisi agama memiliki peran penting di dalamnya. Seperti agam islam sendiri. Setiap suatu agam datang pada suatu daerah maka mau tidak mau, maka agar dapat di terima oleh masyarakat maka harus bersifat membumi. Maksudnya agama tersebut harus menyesuaikan diri dengan beberapa aspek lokal sekiranya tidak bertentangan dengan dengan kehadiran islam di jawa. Umumnya , para pendakwah islam dapat menyikapi tradisi likal yang di padukan menjadi bagian tradisi yang “ islami” karena berpegangteguh dengan kaidah ushuliyah ( kaidah yang menjadi pertimbangan yang merumuskan hukun fiqih). Dalam firman Allah Swt
المخافظة القديم الصالح, والاحظ الجديد الاصل
Menjaga nilai –nilai lama yang baik, sembari mengambilnilai-nilai baru yang lebih baik”[4]
Pada kelahiran seorang bayi, tentunya pada tradisi jawa diadakan beberapa upacara adat yang akan dilakukan demi menyambut bayi yang baru lahir.
Tradisi yang di maksud adalah aneka tradisi jawa yang terkait dengan ritual dan tradisi kelahiran . berbagai ritual dan do’a tersebut adalah yang terkait dengan  apa yang sering di sebut dengan (selamatan berupa wilujengan atau kenduri atau shadaqahan ( sedekah)  tentu masih banyak ritual dan do’a yang terkait dengan berbagai siklus kehidupan dan kematian manusia.

No
Siklus
Jenis Ritual
Waktu Pelaksanaan
1.
Kelahiran
Ngupati atau Ngapati
Kehamilan mencapai Usia 120 hari
2.
Nglimani
Kehamilan (pertama) mencapai usia 5 Bulan
3.
Mitoni juga disebut Tingkeban
Kehamilan mencapai usia 7 Bulan
4.
Nyangani
Kehamilan (pertama) mencapai usia 9 bulan
5.
Brokohan
Selamatan Kelahiran bayi, pada hari bayi lahir
6.
Sepasaran
Selamatan hari ke-5 kelahiran bayi, pemberian nama dengan aqiqahan, biasanya disertai dengan kenduri dan bancakan (selametan).
7.
Puputan
Selamatan setelah sisa tali pusar lepas (jatuh)
8.
Selapanan
Selamatan hari ke-35 dari kelahiran bayi.hari memperbagus fisik sang bayi. Biasanya di sertai dengan kenduri dan bancakan.
9
Tedhak Siti
Selamatan anak usia 7 lapan (245 hari). Do’a kepada Allah agar anak menjadi anak yang jujur, ahli ibadah, ahli kepada ilmu, dermawan dan etos yang tinggi.
10.
Setahunan
Selamatan ketiak usia anak sudah 1 tahun.

Berikut merupakan daftar tradisi pada saat kelahiran bayi , di jawa yang masih berkembang pada saat ini. Meskipun waktu sudah bereada pada zaman modern.[5]
Banyumas merupakan kabupaten yang terletak di ibukota purwokerto provinsi jawa tengah. Bagi masyarakat Banyumas, bahasa Bayumasan merupakan bahasa ibu yang hadir sebagai sarana komunikasi sehari-hari. Hal ini seperti yang dikatakan Koentjaraningrat, orang Jawa memiliki pandangan yang sudah pasti mengenai kebudayaan Banyumas selain memiliki bentuk-bentuk kelompok sosial kuno yang khas, juga memiliki dialek Banyumas yang berbeda (Koentjaraningrat, 1994:25).
Pada masyarakat Banyumas terdapat tradisi Munyen. tradisi dilakukan masyarakat dalam menyambut kelahiran seorang anak manusia. Upacara selamatan pra-kelahiran pun digelar dengan berbagai harapan positif terhadap bayi yang hendak lahir. Kenduri, semacam acara makan bersama masyarakat sekitar dengan hidangan tertentu sesuai usia janin dalam kandungan. Ketika janin masih berusia tiga  bulan dalam kandungan, diadakan selamatan Jenang bening, Bubur Sumsum, dan Nasi Punar Phontang (Nasi Kuning serta lauk pauk dan jamur).
Lalu ketika janin berusia 4 bulan, dilakukan selamatan dengan sebutan Ngupati. Wujudnya berupa ketupat, gudeg, nasi pecel, tumpeng, enten-enten dan ketan. Lalu pada masa kehamilan 7 bulan, ada selamatan lagi yang disebut Mitoni atau Ningkebi dengan upacaranya disebut Tingkeban. Bahkan ketika usia kehamilan mencapai 9 bulan ada selamatan lagi yang disebut Mrocoti. Pada Upacara adat pada saat memperingati kehamilan 9 bulan terdapat makanan khas yang du sajiakan. Karena pada hari –hari upacara makanan tersebut ada Makanan atau masakan yang disajikan  antara lain: jenang procot, kupat, nasi golong (nasi kepal dan di bulat-bulatkan), bulus angrem, dhawet, dan lain-lain. Tujuannya agar nanti bayi yang di lahirkan bisa keluar dengan cepat dan selamat tanpa ada gangguan apapun.
Pada saat menjelang proses kelahiran, terdapat kebiasaan yang unik yang dilakukan oleh masayarakat Banyumas. Ketika Bayi akan lahir, pintu, jendela, panci – panci di buka semua, kecuali pintu kamar yang untuk melahirkan. Ibu hamil mengunyah sambetan.(sejenis ramuan). sambetan terdiri dari dlingu (Acorus Calamus L. Botani), blengke ( Zingiber Cassummunar) dan kunir (Curcuma Longa Line)  yang kemudian di kunyah, disembur, dioles keperut. Mengambil daun talas memarut temu dan dicampur minyak klentik / minyak kelapa. Memarut temulawak (Curcuma xantorriza) kemudian diperas, ditambah minyak kelapa kemudian ditaruh di daun talas dan diminum oleh ibu hamil tersebut sebelum melahirkan. Kemudian menyediakan  telur ayam kampung. Apabila sudah melahirkan diminumkan madu dan telur ayam kampung untuk mengembalikan tenaga sanng ibu.
Setelah bayi lahir, ari – ari bayi dipotong dengan kulit bambu (welad) yang telah dibaluti kunyit, maupun pisau dan gunting, tali pusat itu dimasukkan ke dalam kendhi (periuk dari tanah) yang masih baru. Kemudian ditutup dengan daun pisang raja, ditaburi kembang telon (kantil, mawar, melati), minyak wangi, garam, jarum, benang, gereh pethek (sejenis ikan asin) dua ikat sirih keris dan jambe serta kemiri. Juga disertakan kertas bertuliskan huruf abjad Arab hijaiyah ي - ا ,a – z, 1 – 10, bunga tujuh macam yaitu bunga mawar merah, putih, melati, kenanga hijau, kenanga kuning, kanthil putih, bunga sepatu merah, lafadz bismillah, syahadat, dimasukkan ke dalam anyaman janur dan dimasukkan ke kendhi. Baru di atasnya ditutup dengan cobek dari tanah yang dilubangi agar ada udaranya. lubang kendhi dihiasi carangan (batang bambu kecil), yang menurut keyakinan masyarakat sekitar lubang tersebut bermanfaat ketika anak sedang flu, lubang itu ditiup sehingga anak tersebut sembuh dari flunya.
Selanjutnya, kendhi tersebut dihanyutkan di sungai, dengan maksud agar kelak anak tersebut gemar merantau dan mendapatkan jodoh yang jauh. Ada pula yang digantung di luar rumah, yaitu untuk kerukunan dan kelak anaknya sendiri yang menghanyutkan. Apabila satu keturunan ada yang dijadikan satu tempat dengan ari – ari kakaknya. Namun juga ada yang ditanam (dikubur) oleh ayahnya sendiri dengan maksud supaya mendapatkan jodoh yang dekat. Saat menanamnya pun mengikuti aturan, harus berpakaian rapi, ari-ari digendong dengan selendang dan dipayungi. Setiap hari kelahirannya (weton) ari-ari ditaburi bunga telon.
           
Saat sisa usus bayi yang melekat pada pusar mengering dan lepas, sering disebut Puput PuserMenurut adat, bila bayi laki-laki, lubang pusernya disumbat dengan dua buah mrica agar kelak menjadi lelaki sejati. Bila bayinya perempuan, lubang pusar disumbat dengan ketumbar. Sore harinya biasanya diadakan upacara selamatan dengan hidangan terdiri dari nasi dan janganan (sayuran), jenang merah putih, baro-baro dan jajan pasar. Sedangkan sesajinya berupa golong lima yaitu ikan, padupan, bunga cempaka dan uang logam,  ditempatkan di takir (daun pisang dibentuk bundar).
Setelah selesai dengan urusan ari – ari sekarang giliran ibu bayi dimandikan  (mandi wiladah), setelah melahirkan ibu diharuskan memakai Stagen/benting di bengkung (benting) selama 100 hari. Perut ibu diberi pupuk yang terdiri dari jeruk nipis, kapur sirih, minyak kayu putih dioleskan dengan tujuan untuk mengembalikan kondisi perut agar kembali seperti semula (ramping). Duduknya ibu diharuskan dengan abu hangat yang diletakkan didaun pisang kemudian dibungkus dengan kain, diatasnya pakai Sapu Oman ( tangkai padi) dengan tujuan agar darah dalam perut tidak membeku, bisa lancar dan  keluar. Mata ibu dipupuhi, pilis dikening bertujuan untuk darah putih tidak kemata.
Dari prosesi adat masyarakat Banyumas pada saat melahirkan, tentunya terdapat tradisi lain yang di lakukan setelah melahirkan sampai dengan si anak berumur 1 tahun. Pada hari ke-35 dari kelahiran bayi.hari  di adakannya Selapanan, kemudian Thedak Siti dan Setahunan.
Dari tradisi yang ada di Banyumas, memberikan arti tersendiri kepada generasi masyarakatnya. Dimana tradisi tersebut akan memberikan pelajaran yang baik tetunya mengandung nilai-nilai religi dan estetika terhadap tradisi tersebut. Maka dari generasi masyarakat Banyumas selalu memeperingati teradisi tersebut, walaupun sudah berada pada zaman modern dengan adanya rumah sakit bersalin yang kadang kala prosesi kelahirannya tidak sama dengan adat Jawa atau Banyumas. Tetapi masyarakat Banyumas mencoba menjaga tradisi tersebut demi generasinya.



BAB III
METODE PENELITIAN
A.    Definisi Metode Penelitian
Metode ( yunani : metodos, metode) adalah cara atau jalan, yaitu cara kerja untuk dapat memahami obyek yang menjadi sasaran ilmu yang bersangkutan .( Koentjaraningrat, metode-metode penelitian masyarakat, garmedia.1997: hl.16)[6]
Metode merupakan aspek yang sangat penting dan besar pengaruhnya terhadap berhasil tidaknya suatu penelitian, terutama untuk mengumpulkan data. Sebab data yang diperoleh dalam suatu penelitian merupakan gambaran dari obyek penelitian.
Menurut Hadi, penelitian adalah usaha untuk menemukan, mengembangkan dan menguji suatu pengetahuan dengan menggunakan metode-metode ilmiah. Dengan upaya mendapatkan dan mengumpulkan data dari kegiatan penelitian. [7]

 A.1.  Pendekatan Dalam Penelitian
Dalam pemelitian pendekatan yang di gunakan adalah pendekatan Kualitatif. Di mana data yang dikumpulkan bukan merupakan angka-angka, melainkan data tersebut berasal dari naskah wawancara, catatan lapangan, dokumen pribadi , catatan memo dan dokumen pribadi lainnya. Sehingga dalam penelitian Kualitatif ini adalah ingin menggamabarkan realita empirik di balik fenomena yang mendalam, rinci dan tuntas. Oleh karena itu, penggunaan pendekatan kualitatif dalam penelitian ini adalah dengan mencocokan antara relita empirik dengan tori yang berlaku dengan menggunakan metode diskriptif.
Menurut Keirl dan Meiller dalam Moleong yang di maksudkan dengan Penelitian Kualitatif adalah Tradisi tertentu dalam ilmu pengetahuan sosial yang secara fundamental tergantung Pengamatan manusia pada kawasannya sendiri, dan berhubungan dengan orang –orang tersebut dalam bahasanya dan peristilahannya.
Pertimbangan peneliti menggunakan penelitina dengan metode Kualitatif sebagaimana yang di ungkapkan oleh Lexy Moleong ;
A)                Menyesuaikan metode Kualitatif lebih mudah apabila berhadapan dengan kenyataan
 ganda.
B)      Metode ini secara tidak langsung hakikat hubungan antara peneliti dengan responden atau masyarakat.
C)      Metode ini lebih peka dan menyesuaikan diri dengan manajemen pengaruh bersama pola-pola nilai yang di hadapi.[8]
Jadi penelitian ini termasuk penelitian Deskriptif menurut Witney dalam Moh. Nazir bahwa Metode Deskriptif adalah pencarian fakta dengan interpretasi yang tepat. Penelitian Deskriptif meneliti tentang masalah- masalah masyarakat, tata cara yang berlaku dalam masyarakat serta situasi-situasi tertentu, termasuk dalam hubungan, kegiatan ,sikap, pandangan serta proses yang sedang berlangsung pada suetu fenomena.[9]
B. LOKASI PENELITIAN
Lokasi penenelitian merupakan tempat dimana penelitian akan dilakuakan dengan tujuan mendapatkan data-data atau informasi yang di butuhkan.
Tempat penelitian : Jalan Maratirta Desa Siidabowa RT.02/ RW.03
                                Kec. Patikraja Kab. Banyumas Jawa Tengah.
Pada dasaranya banyumas merupakan kabupaten yang terletak di ibukota purwokerto provinsi jawa tengah.
Batas wilayah            :
http://t0.gstatic.com/images?q=tbn:ANd9GcS4cuwOZ-pgbVOaIdsOKRcGgYmu-zAj-7VtfnPcDI5f8IpSrgcP
:
Sebelah Utara: Gunung Slamet, Kabupaten Tegal dan Kabupaten Pemalang.
1.        Sebelah Selatan:  Kabupaten Cilacap
2.        Sebelah Barat: Kabupaten Cilacap dan Kabupaten Brebes
3.        Sebelah Timur: Kabupaten Purbalingga, Kabupaten Kebumen dan Kabupaten Banjarnegara

Luas Wilayah
:
1.335,30 Km²
Jumlah Penduduk
:
1.795.844 Jiwa 
Wilayah Administrasi
:
Kecamatan: 27, Kelurahan: 30, Desa: 301

C. SUMBER DATA                  
C.1. Data Primer
Menurut S. Nasution data primer adalah data yang dapat diperoleh lansung dari lapangan atau tempat penelitian. Sedangkan menurut Lofland bahwa sumber data utama dalam penelitian kualitatif ialah kata-kata dan tindakan. Kata-kata dan tindakan merupakan sumber data yang diperoleh dari lapangan dengan mengamati atau mewawancarai[10]. Peneliti menggunakan data ini untuk mendapatkan informasi lansung dari masyarakat setempat mengenai adat- istiadat upacara kelahiran seorang bayi seperti Muyen ( bertemu Bayi). Dari hasil wawancara yang di lakukan oleh peneliti menunjukkan bahwa adat budaya tersebut tersebut muncul merupakan kebudayaan yang ada sejak nenek moyang. Tradis tersebut diajarkan dengan maksud memberikan keberuntungan yang baik untuk anak selama masa hidupnya.


C.2. Data sekunder
Data sekunder adalah data-data yang didapat dari sumber bacaan dan berbagai macam sumber lainnya yang terdiri dari surat-surat pribadi, buku harian, notula rapat perkumpulan, sampai dokumen-dokumen resmi dari berbagai instansi pemerintah. Data sekunder juga dapat berupa majalah, buletin, publikasi dari berbagai organisasi, lampiran-lampiran dari badan-badan resmi seperti kementrian-kementrian, hasil-hasil studi, tesis, hasil survey, studi histories, dan sebagainya.[11]Peneliti menggunakan data sekunder ini untuk memperkuat hipotesa tentang tradisi yang ada di Banyumas melalui wawancara terhadapa salah satu warga yang bernama Mbah Patmi
D.  TEKNIK PENGUMPULAN DATA
Pengumpulan data merupakan langkah yang sangat penting dalam penelitian, karena itu seorang peneliti harus terampil dalam mengumpulkan data agar mendapatkan data yang valid. Pengumpulan data adalah prosedur yang sistematis dan standar untuk memperoleh data yang diperlukan.

D.1. Observasi Langsung
Observasi langsung adalah cara pengambilan data dengan menggunakan mata tanpa ada pertolongan alat standar lain untuk keperluan tersebut. Dalam kegiatan sehari-hari, kita selalu menggunakan mata untuk mengamati sesuatu. Observasi ini digunakan untuk penelitian yang telah direncanakan secara sistematik tentang bagimana peroses dan kebiasaan pada adat atau tradisi pada masyarakat Banyumas tentang kelahiran sorang bayi atau yang di sebut dengan Muyen. Dan mengetahui bagaimana proses pra-kelahiran dan sesudah kelahiran
Tujuan menggunakan metode ini untuk mencatat hal-hal, perilaku, perkembangan, dan sebagainya tentang perilaku kebiasaan masyarakat Banyumas tentang tradis yang di turun temurun dari nenek moyang dan masih berjalan sampai sekarang. Meskipunn dalam wawancara responden menggunakan bahasa daerahnya yang sebagian dari kami kurang mengerti. Tapi untungnya ada teman kami yang berasala dari daerah tersebut. Jadi masalah tersebut bisa terkendali.



D.2. Wawancara
Wawancara adalah proses memperoleh keterangan untuk tujuan penelitian dengan cara tanya jawab, sambil bertatap muka antara si penanya dengan si penjawab dengan menggunakan alat yang dinamakan interview guide (panduan wawancara).
Tujuan penulis menggunakan metode ini, untuk memperoleh data secara jelas dan kongkret tentang sumber informasi yang ada.
Seperti kutipan wawancara kami dengan mbah patmi (Dukun Bayi) hari Sabtu, 14 April 2013 jam 16.15 WIB.
Pewawancara    :  “Assalamu’alaikum..... nuwun sewu, mbah. Kula mahasiswa IAIN
Walisongo, kula ajeng tangklet tentang kebiasaanipun masyarakat
Mriki nek onten ibu seng jebolan?
( Assalamu’alaikum... permisi , nek .saya mahasiswa IAIN Walisongo, saya mau tanya tentang tradisi atau kebiasaan  masyarakat di sini jika ada ibu yang melahirkan )
Mbah Patmi       :  “Wa’alaikum salam...... takon opo nok ?
( Wa’alaikum salam .... mau tanya apa nak ? )
Pewawancara     : “ nak mak –mak meteng niku eneten kebiasaan nopo mbah? Mbahe  kan dukun seng bantu nglahirake teng mriki,menawi mbah ngertos?
( jika ada ibu-ibu yang mengandung itu tradisinya itu apa nek ? , nenek kan dukun yang membantu dalam melahirkan , mungkin nenek tahu ?)”
Mbah Patmi        : teng daerah mriki iku nok, biasane nak enten seng meteng diadakne  selaemtan koyok mitoni,ngakebi lan  liyane’’
   Trus yo nok, nak wus nglahirake biasane dia dakane ngubur ari-       ari,jenengi,lan aqiqohan. ( Di daerah sini, biasanya ada yang melahirkan kemudian di adakan selametan yang di sebut dengan Mitoni , ngakebi, dan yang lainnya.’ Kemudian jika sudah melahirkan biasanya di adakan penguburan ari-ari , memberi nama dan aqiqah )
Pewawancara    : la niku tujuane nopo mbah.... ?
( Itu tujuannya untuk apa nek ? )
Mbah Patmi       :  oh ..kathah nok, misale yo nok , koyok nguburke ari-ari iku tujuane  supayane gen angasal jodoh cepak,”
( oh banyak mbak, misalkan saja seperti upacara penguburan ari-ari itu bertujuan supaya  dapat jodoh yang dekat tau tetangga sendiri “)
Pewawancara      : “mbah keuntungane mupuhi mripat niku nopo mbah kangge ibunk e ?”
( “Nek , apa keuntungannya mentaburi mata  buat sang ibu? “)          
Mbah patmi     : “mripate ki ben orak cepet blawur nok, delokko saiki cah2 nom seng wes do gendong anak, akeh seng wes ngenggo kocomoto, yo kui mergone rak pupuhan”
( Mata biar tidak  cepat rabun mbak, coba lihat sekarang para pemuda sudah  Sudah pada menimang anak, banyak yang sudah memakai kacamata, itu di sebabkan tidak ada upacara pentaburan mata )
Pewawancara     : “ matur suwun nggeh mbah , kula ajeng pamitan,,, kula mpun cukup informasine,... wassalamua’laikum.”

E.   ANALISIS DATA
Analisis data adalah proses mengorganisasikan dan mengurutkan data kedalam pola, kategori, dan satuan uraian dasar sehingga dapat ditemukan tema dan dapat dirumuskan hipotesis kerja seperti yang disarankan oleh data
Dari rumusan di atas dapatlah kita tanarik garis besar bahwa analisis data bermaksud pertama-tama mengorganisasikan data. Data yang terkumpul banyak sekali dan terdiri dari catatan lapangan, komentar peneliti, gambar, foto, dokumen berupa laporan, biografi, artikel, dan sebagainya. Setelah data dari lapangan terkumpul dengan menggunakan metode pengumpulan diatas, maka peneliti akan mengolah dan menganalisi data dengan menggunakn analisis secara Deskriptif-Kualitatif.
Deskriptif-Kualitatif Merupakan suatu teknik yang menggambarkan menginterpretasikan data –data yang terkumpul dengan memberikan perhatian dan merekam sebanyak mungkin aspek yang situasi yang di teliti pada saat itu, sehingga memproleh gambaran secara umum[12]. Menurut M. Nazir bahwa tujuan Dekriptif ini adalah untuk membuat gamabaran atau lukisan secara sistematis , akurat dan faktual mengenai suatu kebudayan yang terselidiki.[13]




BAB IV
PENUTUP
A.   Kesimpulan
Berdasarkan hasil penelitian yang di lakukan maka dapat di tarik kesimpulan bahwa:
1.      Sebuha kebudayaan yang bearda di suatu daerah tertentu misalanya “ Adat kelahiran Bayi “ membrikan pengertian tersendiri bahwa suatu tradsis tersebut memilki identitas terhadap budayanya.
2.      Dalam sebuah kebudayaaan bahwa agama sangat berperan penting dalam suatu tradisi  misalnya dalam kelahiran, waktu bayi lahir langsung di berikan suara adzan oleh si Ayah.
3.      Dalam tradis Kelahiran terdapat upacara –upacara tertentu yang dilakukan pra-kelahiran meupun sesudah kelahiran. Baik kepada sang ibu maupun kepada sang bayi itu sendiri.
4.      Dalam upacara-upacar tersebut , di yakini oleh masyarakat memilki tujuanakan membantu kelancaran  dalam proses kelahiran dan setelah kelahiran akan memberikan manfaat yang lebih terhadap anaknya kelak nanti dewasa.



B.    Saran
 Apabiala kita lihat sekarang pada zaman modern ini, banyak sekali dari beberapa
kalangan yang kurang perduli tentang kebudayan khususnya Mahasiawa. Maka perlunya sebuah kesadaran mengeni betapa pentingnya Arti dari sebuah kebudayaan. Bahwa kebudayaan merupakan identitas dari suatu daerah tersebut.

INDEKS
Akulturasi
Merupakan perpaduan antara kebudayaan satu dengan kebudayaan yang lain dengan
tidak menghilangkan kebudayaan aslinya.
Animisme
Merupakan suatu kepercayaan yang menganggap bahwa benda mati (batu, gunung,
keris dan sebagainya) memilki kekuatan magis
Bengle
Merupakan salah satu tanaman obat berupa umbi yang tumbuh di seluruh undonesia
 dan di gunakan untuk obat.
Baro-baro 
Merupakan sejenis jenang bekatul yang di makan bersamadengan gula pasir dan di
tambah dengan kelapa parut.
Dinamisme
Merupakan suatu kepercayaan yang menganggap bahwa makhluk hidup ( manusia
 hewan dan tumbuhan) memiliki kekuatan magis.
Dlingu
Merupakan jenis tanaman yang mirip dengan rhizoma dan akan tumbuh lebih baik
 ( dalam arti akarnya akan cepat besar) jika hidup di tanam yang terus-menerus
 tergenang air.
Jenang Merah Putih
Merupakan nasi putih yang di tambahkan dengan urap, sayur-sayuran diolah dengan
di rebus di tambah dengan telu dan tak lupa dengan sambal
Muyen
Merupakan suatau Upacara adat yang dilakukan masyarakar Banyumas untuk
menyambut kelahiran yang menurut istilah jawa dengan Ketemu Bayen (Bertemu
dengan Bayi).
Preparedbirth
Merupakan suatu kaedah yang memberikan perencanaan sebelum prosesi kelahiran.
Selametan (Kenduren atau Welujengan)
Merupakan adat yang dilaksanakan dirumah yang mempunyai hajat dengan
mengundang tetangga-tetangga dekat untuk makan bersama.
Temulawak
Merupakan tumbuhan yang tergolong dalam suku temu-temuan (Zingicerabeae
DAFTAR PUSTAKA
Narbuka,Cholid.1986. Metodologi Riset. Semarang : Bentang Pustaka.
Lexy J, Moleong.1991.Metode Penelitian Kualitatif. Bandung: Remaja Rosda Karya
Koentjaraningrat.2003.Pengantar Antropologi I. Rieneka Dcipta: Jakarta
Sholikhin,Muhammad.2010.Ritual & Tadisi Islam Jawa,Jakarta: PT.Gramedia
Nazir, Moh.2003.Metode Penelitian.Jakarta: PT. Ghalia Indonesia, 2003
Nasution,S.2004. Metode Research. Jakarta : Bumi Aksara


















LAMPIRAN
 ( TRADISI KELAHIRAN BAYI  )

 http://t2.gstatic.com/images?q=tbn:ANd9GcS4N_Qcr0UPbThl44wIgatoiTm3TcBPvODY4ow5BOTxpZa-sywL                               http://2.bp.blogspot.com/_o6MBU_gBBRc/Su7xMxmqX9I/AAAAAAAAA-s/k5wf090hqTw/s400/kakang-kawah.jpg                                                                                                                                                            
    Gb.01. ( Bayi Yang di Gedong )                      Gb.02. ( Ari-ari yang dimasukkan di kendhi )
  http://2.bp.blogspot.com/-9w_lNzjU_D4/TxA4azP0ZqI/AAAAAAAACJI/KkoysXnj7S4/s400/placenta.jpg                                 http://1.bp.blogspot.com/_Zw1rYtJfrb8/SJsP5TMK7zI/AAAAAAAAAC8/U6QDz2Dx2rU/s320/Menanamari25.jpg                                                                                                                                                                  
    Gb.03. (  Ari-Ari Bayi )                                         Gb.04. ( Upacara Penguburan Ari-ari .01)
  http://t1.gstatic.com/images?q=tbn:ANd9GcQPW38EFDhAnR5U65SBbTSK75-1DoJ9Wi9fyI_C8niK8uu_n8JU                           http://3.bp.blogspot.com/_Zw1rYtJfrb8/SJsP5Icd3cI/AAAAAAAAACs/fC9dcEugDs8/s320/Menanamari23.JPG                                                
      Gb. 05. (  Bayi Baru Lahir )                                    Gb.06. ( Upacara Penguburan Bayi 02 )
J.02 (  MAKANAN YANG DI SAJIKAN SAAT UPACARA KELAHIRAN BAYI          
http://2.bp.blogspot.com/-KUu31MfBdek/UFmTveRoyNI/AAAAAAAAAFw/jOZkbtIMczw/s1600/sego+golong.jpg      https://encrypted-tbn0.gstatic.com/images?q=tbn:ANd9GcTYydrTmaRFHDwVnoUIMnKJIdFl3CNzvk2cEIiAMwQ5Z3oFLYoymA     http://2.bp.blogspot.com/-7fmJc0GUYBE/UQuUGk5Q24I/AAAAAAAAANU/vynvT3_KycY/s1600/RESEP+BUBUR+SUMSUM+ENAK+SPESIAL+UNTUK+BAYI+CERDAS.jpeg                                                        
Gb. 01. ( Nasi Golong )                   Gb. 02. ( Nasi Puntar )            Gb. 03. (Bubur Sum-sum)




[1] Koentjaraningrat.Pengantar Antropologi I.( Jakarta : Rieneka Dcipta, 2003) h.11
[2] Koentjaraningrat.Pengantar Antropologi I.(  Rieneka Dcipta: Jakarta, 2003)  h.02
[3]( Koentjaraningrat.2003) h.15
[4] K.H. Muhammad Sholikhin,Ritual & Tadisi Islam Jawa,( PT. GRAMEDIA: Jakarta,2010)  h.01
[5] (K.H. Muhammad Sholikhin, 2010)  h.27-28
[6] Cholid Narbuka, Metodologi Riset, (Buku Ilmiah : Semarang,1986)  h. 01
[7] Moh. Nazir. Ph. D, Metode Penelitian ( PT. Ghalia Indonesia:Jakarta 2003) h. 23
[8] Lexy J, Moleong.Metode Penelitian Kualitatif. (Remaja Rosda Karya: Bandung. 1991) h.1-2
[9] Nazir, Moh.2003.Metode Penelitian.(PT. Ghalia Indonesia, 2003) h.06

[10] Prof. Dr. S. Nasution, M.A. Metode Research, (Bumi Aksara: Jakarta 2004.) h.124
[11] Prof. Dr. S. Nasution, M.A. (Bumi Aksara: Jakarta 2004.) h. 25
[12] Lexy J, Moleong (Remaja Rosda Karya: Bandung. 1991) h.11
[13] Moh.Nazir.200.(PT. Ghalia Indonesia:Jakarta 2003) h.08